Page 2959 of 6193
1 2.957 2.958 2.959 2.960 2.961 6.193

Canada: What to teach your preschooler about internet safety

América del Norte/Canada/Diciembre del 2017/https://theconversation.com

Fifteen years ago, parents and caregivers did not have to worry about teaching pre-school aged children about internet safety. A new reportprepared for the Children’s Commissioner of England suggests this time has passed.

Children now live in a digital age, which means internet access is a daily part of life for many young children around the world.

It’s easier for very young kids to go online now, because touchscreen technology requires less fine motor skills. Shutterstock

Touchscreen technologies have changed how accessible the internet is for very young children, particularly between the ages of four and five. It’s now quicker and easier to connect to the internet using these technologies, as they don’t require the same level of fine motor and literacy skills used to navigate a mouse and keyboard.

More recently, the Internet of Things has become widespread. The Internet of Things uses small chips embedded in everyday items, including children’s toys, to communicate information to the net. Children’s dolls, teddy bears and figurines can record their play and upload this information as data to the web. This can occur without children’s consent because they wouldn’t be aware they’re generating data.


Read more: Six things every consumer should know about the ‘Internet of Things’


The three main risks

Internet safety addresses three main risks faced by children online. These are contact, conduct and content risks:

  • contact risks involve children talking to unknown people on the internet. Contact risks also include the harvesting of children’s data, such as recording their activity on an online game
  • conduct risks are about behaving respectfully online and learning to manage digital footprints
  • content risks are concerned with the type of material children view and consume when accessing the internet.

For pre-school aged children, content risks include accidentally viewing inappropriate content such as pornography. Content also considers the quality of material made available to children. How people are represented in society is mirrored back to children through the media they consume. Quality content for young children has been a concern of the Australian Council on Children and the Media for many years.


Read more: The way your children watch YouTube is not that surprising – but it is a concern. Here are some tips


Contact risks are most likely to occur for pre-school aged children in the form of pop-ups. Children of this age can also be active in virtual worlds, such as Pocoyo World or Club Penguin, where they can engage with other members. Children may not always know the members they are playing with in these worlds.

Conduct involves learning how to be respectful online. Parents can model good conduct behaviours to their children by always asking permission to take photos before posting to social media.

Children as young as four are now online

Internet safety in early childhood is a new area of research because, until now, children as young as four weren’t able to easily access the internet.

A recent study conducted with 70 four-year old children examined what children understand about the internet and being safe online. In this study, only 40% of children were able to describe the internet. This was despite all of the children having access to internet at home, predominately through touchscreen technologies.

Children’s understandings of the internet were associated with their experiences going online and using technologies with their families. They defined the internet as being “in the iPad” or something they used “in the lounge room” to “play games”.

Children were also aware the internet “was used by Mummy for her work” or “by my big sister for her emails”. Some 73% of the children said they would tell someone their address on the internet. And 70% said they would also tell someone how old they were. A further 89% of children indicated they would click on a pop-up even if they did not know what the pop-up was about.



Parenting young children for internet safety

Because children face content, contact and conduct risks online, they require a basic understanding of the internet. The most important thing parents can teach their children about internet safety is that “the internet” means a network of technologies that can “talk” to each other.

This is like teaching children to be sun smart. First, we explain the sun can harm our skin. Next we teach children to wear a hat, a long-sleeved shirt and sunscreen to protect themselves.

For internet safety, we should first explain the internet uses many technologies that share information created and collected by lots of people. Then we can teach our children how to protect themselves online. Some things to teach your child are:

  • seek adult help when you encounter a pop-up
  • only use adult approved sources for content
  • don’t share personal information online
  • try to be near an adult when using a device
  • only click on apps and tabs a parent or caregiver has set up for you.

The internet forms a large part of daily life for many young children. From watching their favourite YouTube clips, to playing games, to talking with a long-distance relative over video-conferencing, being online is not much different to a young child than being offline. Being safe in both spaces is possible with adult support.

Fuente:https://theconversation.com/what-to-teach-your-preschooler-about-internet-safety-87618

Fuente imagen:

Comparte este contenido:

IDONESIA: Membuka pintu pendidikan lebih lebar bagi siswa difabel di Indonesia

Asia/ Indonesia/Diciembre del 2017/https://theconversation.com/

Hari Disabilitas Internasional yang diperingati setiap 3 Desember bukan hanya untuk mendukung penyandang disabilitas tapi juga hari untuk mengambil tindakan demi memastikan warga difabel mendapatkan haknya. Sebuah kolaborasi Indonesia-Australia meninjau apakah lembaga pendidikan di Indonesia, termasuk lembaga pendidikan Islam, membuka pintunya bagi penyandang disabilitas.

Pemerintah Indonesia telah berupaya mempromosikan pendidikan yang inklusif dan mudah diakses oleh penyandang disabilitas. Tetapi, siswa difabel membutuhkan komitmen lebih dari pemerintah dan masyarakatdemi kesetaraan dan partisipasi penyandang disabilitas.

Kemajuan dalam hal akses dan inklusi

Hak penyandang disabilitas tercantum dalam Konvensi PBB tentang Hak bagi Penyandang Disabilitas.

Pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi tersebut pada 2011 dan mengesahkan Undang-Undang tentang Penyandang Disabilitas pada 2016. Pemerintah dan masyarakat juga telah berupaya untuk mempromosikan inklusi penyandang disabilitas dalam bidang pendidikan.

Halangan-halangan masuk sekolah dan melanjutkan ke universitas juga telah dievaluasi. Ini termasuk upaya mengubah rancangan gedung sekolah agar mengakomodasi lajur khusus untuk kursi roda (ramp) untuk masuk ruang kelas. Kurikulum di sekolah umum dan sekolah Islam juga telah diubah demi meningkatkan partisipasi penyandang disabilitas di sekolah.

Perbaikan juga terjadi di luar sektor pendidikan. Sejumlah pemerintah daerah juga dilaporkan telah memulai perencanaan pembangunan yang inklusif untuk membangun infrastruktur yang bisa diakses orang difabel.

Masih banyak yang harus dikerjakan, tapi telah ada dukungan sungguh-sungguh untuk inklusi penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.

Konferensi keragaman dan inklusi disabilitas

Dua lembaga Australia, Institute for Religion, Politics and Society di Australian Catholic University, dan Institute for Culture and Society di University of Western Sydney, telah bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Komunikasi di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta sejak 2016. Kemitraan ini bertujuan menumbuhkan sikap dan kebijakan yang inklusif di lembaga pendidikan tinggi Islam, madrasah dan pesantren.

Konferensi bertajuk Keragaman dan Inklusi Disabilitas di Masyarakat Muslim: Pengalaman di Negara-negara Asia adalah hasil dari kemitraan ini. Konferensi ini didukung oleh UIN Jakarta dan inisiatif pemerintah Australia, Program Peduli, yang dikelola The Asia Foundation.

Perhatian dari seluruh Indonesia mengenai isu ini cukup besar. Para pembicara termasuk akademisi, aktivis disabilitas dan masyarakat sipil. Konferensi ini mempertemukan cendekiawan dari berbagai disiplin, termasuk pendidikan, pekerjaan sosial, psikologi, hukum, studi kebijakan, dan studi agama. Maka pendekatan antardisiplin terasa kental dalam diskusi dua hari tersebut.

Isu-isu yang dipaparkan dalam konferensi termasuk diskriminasi yang masih terjadi, persepsi masyarakat yang negatif mengenai disabilitas, dan kebijakan yang diskriminatif. Konferensi juga menampilkan temuan para peneliti berkait praktik-praktik inklusi di tingkat komunitas. Isu penting yang didapati dari 52 makalah adalah kurangnya inklusi di bidang pendidikan.

Konferensi memilih fokus inklusi di lembaga pendidikan Islam dan ini memang disengaja. Pendidikan bermutu tinggi bagi penyandang disabilitas penting untuk memastikan mereka mendapat kesempatan kerja di masa depan. Perundangan-undangan di Indonesia memandatkan perusahaan untuk memberi kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas berdasar prinsip non-diskriminasi. Pendidikan menjadi fondasi dari kesempatan kerja yang baik.

Manfaat pendidikan inklusif

Pendidikan inklusif merupakan dasar dari perkembangan kemampuan dan kapasitas penyandang disabilitas sehingga bisa bersaing dan dihargai di dunia kerja. Inklusi penyandang disabilitas di pendidikan tinggi mendorong sikap positif di komunitas terhadap penyandang disabilitas, partisipasi, dan inklusi sosial.

Pembahasan yang muncul dalam konferensi internasional memperlihatkan bagaimana disabilitas dan keragaman bisa menjadi jalan penting menuju menghargai perbedaan. Inklusi disabilitas mendorong dialog dan pembelajaran, memperluas pemahaman sosial akan hak, keadilan, dan praktik tanpa diskriminasi.

Disabilitas dan pendidikan Islam

Kolaborasi antara ilmuwan Australia dan Indonesia menelaah inklusi disabilitas di lembaga pendidikan Islam seperti di pesantren, madrasah, dan universitas Islam. Para akademisi juga menelaah pengajaran Islam, dari ayat Quran dan Hadis, berkenaan dengan praktik inklusif.

Para peneliti dan aktivis disabilitas Muslim di konferensi membahas kunci-kunci dalam pengajaran Islam yang mendorong inklusi, rasa hormat, dan martabat. Para penyaji makalah membahas dukungan positif untuk perbedaan dan keragaman dalam ajaran Islam. Ini termasuk peran iman yang mendukung pemenuhan hak dalam tindakan sehari-hari.

Isu inti yang juga diungkapkan di konferensi adalah mayoritas penyandang disabilitas di Indonesia tinggal di perdesaan. Ini tantangan sebab madrasah dan pesantren di perdesaan biasanya kurang dalam fasilitas dan sumber daya. Jarang ada pesantren atau madrasah yang memiliki fasilitas untuk penyandang disabilitas.

Konferensi ini memfasilitasi berbagi gagasan, pengetahuan, dan keahlian dari seluruh Indonesia. Para aktivis mengungkapkan pengalaman mereka dan menunjukkan cara baru untuk mewujudkan inklusi disabilitas di Indonesia. Gabungan antara pengalaman pribadi dan riset menekankan pentingnya kebijakan pemerintah dalam memperluas inklusi penyandang disabilitas, terutama di bidang pendidikan. Para pembicara dan peserta konferensi menekankan dengan inklusi pendidikan maka sikap masyarakat terhadap disabilitas bisa lebih positif.

Peserta konferensi menyetujui kolaborasi penting ini harus dilanjutkan. Rencana untuk kolaborasi lebih jauh bahkan telah mulai dibicarakan. Komitmen bersama antara aktivis dan akademisi, yang didorong aspirasi para penyandang disabilitas, akan melempangkan jalan ke perubahan kebijakan. Konferensi ini berakhir dengan dibentuknya Jaringan Riset Disabilitas Australia-Indonesia untuk membangun momentum demi perubahan sosial.

Fuente: https://theconversation.com/membuka-pintu-pendidikan-lebih-lebar-bagi-siswa-difabel-di-indonesia-88262

Fuente Imagen:

https://lh3.googleusercontent.com/iWZ7BxcAOnWrTaPJASR5Ax5_i0rnr3L9DRsah_MffGJ8RY5YVxOJPHP0yXjT1cFypiKpSg=s129

 

Comparte este contenido:

España: ¿Qué es la ideología de género y por qué levanta tanta polémica?

Europa/España/Diciembre del 2017/http://www.larazon.es

 

La ideología de género tiene tantos defensores como detractores y no parece que se pongan de acuerdo. ¿Qué es y cómo se define? ¿Es dañina por cuanto se fija más en cuestiones ideológicas que biológicas? ¿Qué pesa más en la construcción sexual de un ser humano, lo biológico o lo social? Dos expertos, María Martín-Vivar, psicóloga, doctora en psicología y especialista en psicología infantil y Daniel Rama Víctor, psicólogo y especialista en psicología del adolescente, valoran el complejo asunto.

El pasado 20 de noviembre fue el Día Internacional de los Derechos de los Niños. La Convención de estos derechos, a lo largo de sus 54 artículos, reconoce que los niños son individuos con pleno derecho al desarrollo físico, mental y social. Esto se contradice, sin embargo -sostienen- con la base de la llamada ideología de género que ha estudiado la influencia cultural y social en la población infantojuvenil. Sus detractores se centran más en la parte física-biológica. Y, ¿qué ocurre con su desarrollo mental? ¿Nos estamos ocupando de su salud mental?

El sexo hace referencia a lo biológico, que se lee mediante los cromosomas sexuales, XX (niñas) y XY (niños). Esta diferenciación se produce gracias al gen SRY del cromosoma Y (gen conmutador del sexo); es este gen el que “escoge”. El sexo no se asigna, está determinado en los genes. Es, por tanto, una variable biológica. Esto implica requerimientos, susceptibilidades y diferencias anatómicas, fisiológicas y genéticas entre hombres y mujeres que implican situaciones, problemas y condiciones exclusivas de uno de los sexos. Negar estas diferencias es dañino para el desarrollo de la ciencia en favor de la persona.

¿Qué es la ideología de género y por qué levanta tanta polémica?

El término “género” aparece en el año 1995 en la IV Conferencia Mundial de la Mujer. Hace referencia a la categorización social, a la toma de conciencia de valores, conductas y papeles que se atribuyen a la persona según el sexo que tenga. Cambian entre países, regiones, grupos sociales, etc. Negar estas diferencias, o perpetuarlas rígidamente, es dañino para el desarrollo de las sociedades.

Así, vale la pena el esfuerzo de utilizar el término sexo para aspectos biológicos y el término género para aspectos relativos a la identidad psicosocial, cultural y relacional, explican. Cuando te hablan de ideología de género parece que tienes que posicionarte a favor o en contra. ¿Es la ideología de género “buena o mala”? ¿Favorece o perjudica a los niños?: “Los profesionales sanitarios estimamos que aunar posiciones y unir intereses es más sano para el desarrollo de niños y adolescentes. Ellos son los que pueden sufrir los enfrentamientos de los adultos, las batallas ideológicas y la discrepancia de opiniones. Por encima de los intereses ideológicos y políticos están ellos, los niños”.

¿Qué es la ideología de género y por qué levanta tanta polémica?

Según el Barómetro 2017 del Proyecto Scopio realizado por el Centro Reina Sofía sobre Adolescencia y Juventud, los adolescentes referían que el mayor factor percibido de discriminación es la identidad y orientación sexual. También percibían que la mujer está discriminada en áreas como la laboral, económica y familiar y, que ellas tienen las mismas oportunidades que el hombre para ser feliz, para ser independiente o para separarse de su pareja. La gran mayoría consideraba que la violencia de género es un problema muy grave.

“El sano afán en la búsqueda de la igualdad de derechos y dignidad de todas las personas nos puede facilitar encontrar puntos comunes entre distintas posturas. Es necesario tener unas premisas claras que transmitir a nuestros hijos”, defienden los psicólogos y “una cosa es promover la igualdad de todas las personas y otra es negar la diferencia de sexos. Una cosa es defender la diferencia de sexos y otra es negar las asimetrías sociales hombre-mujer en diversos ámbitos o las brechas salariales o de distribución de poder fundamentadas en creencias y atribuciones de género”.

Para construir una sociedad madura -sostienen- necesitamos que, desde ambas posiciones, aceptemos que hay diferencias por el sexo, que hay diferencias de género aceptables relativas a la cultura o costumbres, que hay otras diferencias de género no aceptables, y que estas diferencias de sexo o de género no deberían implicar diferencia alguna en la dignidad, derechos, poder o responsabilidades de cada ser humano.

¿Qué es la ideología de género y por qué levanta tanta polémica?

Así, ”imponer que no hay diferencias de género ni de sexo es negar precisamente una realidad de mucho interés para el desarrollo de cada persona o para la solución de problemas, etc. Por ejemplo, si queremos prevenir el tabaquismo en adolescentes que están empezando a fumar, la intervención con chicos será distinta que con las chicas, y será distinta según el país o región, porque las atribuciones sociales al hecho de que un varón fume o una mujer fume son distintas. Negar esas diferencias de género nos llevaría al fracaso de la intervención. Pretender negar que existen esas diferencias es negar la realidad”, explican los expertos.

La ideología de género establece una cuádruple disociación en el ser humano: el sexo biológico (cuerpo con el que se nace), la identidad de género (identidad que siente la persona y que puede coincidir o no con el sexo biológico), el rol de género (rol social de hombre o mujer, el cual viene determinado por la sociedad) y la orientación sexual (hacia quién se siente atraída la persona). “Entre toda esta información y debate es necesario acudir a las ciencias, biológicas, sociales, antropológicas, e intentar ser lo más rigurosos posibles. Es importante escuchar y respetar a las personas, cuando se defiende una u otra postura.

Al revisar la literatura científica comprobamos que no existen muchos estudios que verifiquen las razones biológicas que determinan qué factores llevan a algunas personas a afirmar que no se identifican con su sexo biológico. Según varios estudios, entre ellos los del Diagnostic and Stadistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) la mayoría de niños y niñas que se identifican con un género opuesto al biológico, dejan de hacerlo al llegar a la edad adulta.

El determinismo biológico no es suficiente para entender la identidad de la persona. Es necesario atender al factor familiar, vivencial, cultural, ambiental, etc., para encontrar los matices. Las personas cuando nacen “no están hechas del todo”, necesitan “hacerse”: definirse, descubrirse, conocerse, “saber quién son”.

¿Qué es la ideología de género y por qué levanta tanta polémica?

Es necesario que cuenten con el apoyo incondicional de sus padres -explican- quienes les transmitan valores y creencias coherentes con su estilo de vida y les puedan demostrar, momento a momento, que les enseñan, apoyan, acompañan, validan, refuerzan y guían. Que sean modelos y proporcionen atención y seguridad constantes.

Los padres, sostienen, “también proporcionan autonomía y creen en sus capacidades y potencial de desarrollo y observan y reconocen sus fortalezas. Les invitan a pensar y reflexionar sin cohibir ni censurar sus opiniones. Les enseñan a relacionarse mediante habilidades sociales sanas que les permiten tener un grupo de referencia. Les enseñan gratitud, entusiasmo, optimismo, empatía y persistencia. Les apoyan personal, familiar, escolar y socialmente. Les enseñan a ser buenas personas, sin condiciones ni etiquetas, garantizando su salud física y mental”.

Una actitud sencilla- concluyen- y que es sana para el desarrollo de las personas, es la de evitar los estereotipos de género durante la infancia. Por ejemplo, “las niñas son dulces y los niños son fuertes”. ¿Es que es menos masculino ser dulce o menos femenino ser fuerte? O en la elección de los juegos y juguetes, sin obligarles a jugar por diferenciación ni obligándoles a jugar a lo que no quieren para eliminar diferencias culturales, es sano potenciar que ellos elijan lo que les apetezca más en cada momento.

Fuente :http://www.larazon.es/familia/que-es-la-ideologia-de-genero-y-por-que-levanta-tanta-polemica-PO17194281

Imagen:

https://lh3.googleusercontent.com/wO1jQQAAS_AzEE0-9GcJYkRQUoJyIaQt6gC8WQG1CgCgZHUytNIiPBud_med9KDs6KEdNZo=s152

 

Comparte este contenido:

Efemérides de Cultura para el 15 de diciembre

Un 15 de diciembre nacieron personajes de la Cultura como el emperador romano Nerón, el ingeniero Alexandre Gustave Eiffel, el físico Antoine Henri Becquerel y el arquitecto Oscar Niemeyer; muere el filósofo español Julián Marías Aguilera y la autora Margarita Aguirre. 37.- Nace el emperador romano Nerón, en cuyo régimen ocurre el incendio de la «Ciudad Eterna». Sus pretensiones de poeta, músico y actor son juzgadas como poco decorosas para un gobernante. Muere en junio del año 68. 1610.- Ve la primera luz el pintor flamenco David Teniers «el Joven», artista de gran fama entre sus contemporáneos gracias a sus escenas de aldeanos, otra de sus especialidades fue la de los «monos pintores», donde mostraba a estos animales efectuando labores humanas. Muere el 25 de abril de 1690. 1675.- Muere el pintor neerlandés Johannes Vermeer, considerado uno de los artistas del barroco más importantes de la edad de oro de la pintura holandesa. Nace el 31 de octubre de 1632. 1732.- Llega a este mundo el arquitecto alemán Carl Gotthard Langhas, quien fue una figura relevante del Clasicismo de su país. Su trabajo más destacado es la Puerta de Brandeburgo, símbolo de la ciudad de Berlín. Muere el 1 de octubre de 1808. 1753.- Fallece el arquitecto británico Richard Boyle, conocido como «El Apolo de las Artes», fue gran difusor del Palladianismo, convirtiendo este estilo en tendencia dominante de la arquitectura inglesa de la época. Nace el 25 de abril de 1694. 1832.- Inicia la existencia del ingeniero francés Alexandre Gustave Eiffel, constructor de la torre de París que lleva su nombre y es símbolo de Francia. Diseña también varios puentes metálicos y la Estatua de la Libertad, que el país galo regala a Estados Unidos. Muere el 27 de diciembre de 1923. 1852.- Ocurre el nacimiento del físico francés Antoine Henri Becquerel, quien descubre la radioactividad natural y estudia la polarización rotatoria magnética y la absorción de la luz por los cristales. Premio Nobel de Física 1903. Muere el 25 de agosto de 1908. 1859.- Llega a este mundo el médico y lingüista polaco Lázaro Luis Zamenhof, creador del Esperanto, con el que pretende que la humanidad hable en una sola lengua para impulsar la hermandad. Muere el 14 de abril de 1917. 1907.- Ve la primera luz el arquitecto brasileño Oscar Niemeyer, considerado uno de los artistas contemporáneos más relevantes a nivel mundial del siglo XX. Entre sus obras destaca la ciudad de Brasilia, declarada en 1987 Patrimonio Artístico de la Humanidad por la UNESCO. Muere el 5 de diciembre de 2012. 1916.- Nace el físico neozelandés Maurice Wilkins, codescubridor de la estructura del ADN luego de trabajar con Rosalind Franklin sobre la difracción de rayos X. En 1962 comparte el Premio Nobel de Física con sus colegas James Watson y Francis Crick. Muere el 5 de octubre de 2004. 1944.- Pierde la vida el músico estadounidense de jazz Glenn Miller, fundador de la «Glenn Miller Army Air Force Band», cuyo sonido del saxofón hacía distinguir a esta organización musical de otras. Nace el 1 de marzo de 1904. 2001.- En Italia es reabierta la Torre de Pisa, tras permanecer cerrada desde el 7 de enero de 1990, debido a trabajos de restauración. 2003.- El escritor español Ricardo Menéndez gana el concurso internacional de cuento Juan Rulfo, con su obra «Los caballos azules». El galardón es considerado como el más importante otorgado en Francia a la literatura latinoamericana. 2003.- Deja de existir la escritora chilena Margarita Aguirre, biógrafa y secretaria particular del autor Pablo Neruda, de quien escribe obras como «Genio y figura» y «obras completas de Neruda». Nace en 1925. 2005.- Perece el filósofo español Julián Marías Aguilera, alumno y continuador de la obra de José Ortega y Gasset y de Xavier Zubir. Nace el 17 de junio de 1914. 2008.- Los escritores, el mexicano Ignacio Padilla (1968) y el cubano Jorge Dávila Miguel son galardonados con el Premio «Juan Rulfo», en la categoría de cuento, por sus respectivas obras «Los anacrónicos» y «La mensajera». 2010.- Se va de este mundo el guionista y escritor francés Jean Rollin, uno de los primeros directores en realizar películas de vampiros. Entre sus producciones destacan «La reina de las vampiras» (1968), «Desnuda entre las tumbas» (1969) y «El castillo de las vampiras» (1979). Nace el 3 de noviembre de 1938. 2011.- Ocurre el deceso del escritor y periodista británico Christopher Eric Hitchens, militante anti-apartheid que se opuso a la guerra de Vietnam. Entre sus obras destacan » El juicio a Henry Kissinger» (2002), «La victoria de Orwell» (2003) y «Dios no existe» (2009). Nace el 13 de abril de 1949. 2012.- Se registra la muerte del compositor y fundador del grupo musical criollo Los Kipus, el guitarrista y cantautor de música peruana e internacional Genaro Ganoza Torres. Entre sus composiciones destacan «Rosaura Lindaura», «Nada soy», «Está bien», entre otras. Nació el 10 de julio año 1931. 2014.- Fallece el periodista Fausto Zapata Loredo. Reconocido por su labor como columnista y jefe de Información del diario «La Prensa», en la Ciudad de México. Entre sus trabajos destacan artículos y ensayos sobre política, petróleo, seguridad, economía y relaciones internacionales. Fue gobernador de San Luis Potosí en 1991. Nace el 18 de diciembre de 1940. 2016.- Es asesinada en Estambul la escritora turca Beki Çukran, era conocida por sus libros de autoayuda. Nació en 1968.

Fuente : http://www.20minutos.com.mx/noticia/309394/0/efemerides-de-cultura-para-el-15-de-diciembre/

http://www.20minutos.com.mx/noticia/309394/0/efemerides-de-cultura-para-el-15-de-diciembre/#xtor=AD-1&xts=513356

Imagen: https://lh3.googleusercontent.com/U2i7sDSp3PMpyrIGxW6-M_p0NbXkFIKWnzSRW3Uc9WC_Y8uqkRpKFwLwQTYNOCJimjYKew=s85

Comparte este contenido:

españa.Policías y Guardias civiles piden a Hacienda que «abra la hucha» por la equiparación

Europa/ España/ Diciembre del 2017/http://www.larazon.es/

 

Guardias Civiles volvieron a concentrarse hoy ante la puerta del Ministerio de Hacienda para reclamar la justa equiparación salarial con las policías autonómicas. Exigieron a Montoro que «abra la hucha» y que se incluyan en los próximos Presupuestos Generales del Estado una partida, cifrada en unos 1.500 millones de euros.

En la concentración, convocada por JUSAPOL la asociación Justicia Salarial Policial que aglutina a policias y guardias civiles junto a representantes de los sindicatos policiales y las asociaciones representantivas de la Guardia Civil, en unidad de acción reivindicaron que «no haya más mentiras» y que el Gobierno «cumpla sus promesas».

Casi una hora antes de la concentración frente al Ministerio de Hacienda los cinco sindicatos representativos de la Policía Nacional, las asociaciones de la Guardia Civil y JUSAPOL se reunieron en el Congreso con el portavoz de Ciudadanos en la Comisión de Interior, Miguel Gutiérrez quien les ratificó su compromiso con la equiparación.Fuente

Fuente:

http://www.larazon.es/espana/policias-y-guardias-civiles-piden-a-hacienda-que-abra-la-hucha-por-la-equiparacion-OF17214930

Fuente imagen:

https://lh3.googleusercontent.com/IWmhxO5wHg5BaoWgO3ss5hFSkA1ScJiM6TKncwhJQObr03mq8yjDQ2Ug4PJDkDcXHwYCREk=s152

Comparte este contenido:

Canada: Record numbers of children are now homeschooled, but who’s keeping an eye on the parents?

Américadel Norte/Canada/ Diciembre del 2017/https://theconversation.com

 

Nearly 30,000 children in the UK were educated at home in the 2016 to 2017 academic year. This is an almost 100% increase from 2011 – when just over 15,000 pupils were classified as home taught.

I have four school age children. Tomorrow I could, without any forewarning and without notifying my local authority, withdraw them from school and educate them myself at home. My wife and my children would probably kill me. But, from a legal perspective, I would be acting within my rights.

This is because the UK has one of the lowest thresholds for the regulation and monitoring of home educators in Europe – anyone can choose to home educate and there is no requirement to inform local authorities. And local authorities are neither required to monitor who is home educating or how they are doing it.

In part, this is a consequence of ambiguous legislation such as the 1996 Education Act. This tasks parents with ensuring their children receive an education “suitable” to their age, ability and aptitude. It does not however, require school attendance.

The need for regulation

The Badman Review in 2009 and more recently Ofsted both identified “risks” associated with home education. The Badman review was instigated following the tragic death by starvation of a seven-year-old girl in Birmingham. Her mother claimed she was home educating and consequently was able to deny social workers access to her home.

Ofsted’s more recent interest in home education followed investigations into allegations that some schools in Birmingham were being hijacked by radical Muslim fundamentalists whose aim was to teach a narrow Islamocentric curriculum. This led to fears that some children were being taken out of mainstream education and instead sent to small unofficial schools that had been set up by “Islamic hardliners”.

Not all just fun and games. Shutterstock

Micheal Wilshaw, the then chief inspector of schools, wrote to the secretary of state for education describing his extreme concern for the safeguarding of Muslim home educated children.

Both Ofsted and the Badman Review recommended introducing a national register, greater monitoring regimes and more clearly defined roles for local authorities. But so far, none of their recommendations have been implemented.

The right kind of education

My previous research with Gypsy families also revealed concerns about some types of families being identified as problematic “home educators”, who are “putting their children at risk”. Many Gypsy families have traditionally chosen to home educate, and following the Badman Review, these families came under scrutiny, with suspicions they were “using” home education to avoid prosecution when their children did not attend school.

Similar negative responses to home schooling are often seen with poor families who choose to home educate – with claims they are putting their children at risk of neglect and abuse. These findings echo the sentiments and suggestions that many Muslim families use home education as a “cover” to radicalise their children into non British values.

But quite often while Muslims, Gypsies and poor families are identified as potential sources of “risk” in terms of home education, other families such as those from middle class backgrounds seem to be portrayed in a more positive light.

Many home-schooled children are often taught in local groups. Shutterstock

Newspapers are often full of “lifestyle” stories exploring the different choices made by middle class home educators. Typically these families are portrayed as sacrificing the material luxuries of their daily lives in favour of extended child-centric travelogues.

More recently, there was also sympathetic accounts of home education for children with special educational needs. Let down by failing, underfunded state schools parents were said to have been forced to make the difficult decision to home educate.

Parental choice

Our more recent research found that while there are many different types of home educators, a large majority of parents came to the decision to home school for similar reasons. Many ethnic minority families, including all the Muslim and Gypsy families we interviewed, described racism and bullying in schools as a significant factor in their decision. Families from lower socioeconomic backgrounds also described how letdown they felt by local schools.

In this way, we found that many home educators are simply parents who have actively made choices to help meet the needs of their children. But despite this, not all families who home educate are viewed positively. In this way, stereotypes of home educators distort both negative and positive accounts – home educators often seen as problematic not based on what they do, but rather on who they are.

This is where a national register of home educated children and the monitoring of their well-being would be a step in the right direction. This would not impose on parental choice, it would simply help to monitor what, can at times be, something of a grey area within the UK education system.

Ultimately, what all this shows is that for many families there is a real need for home education, because of problems with schooling, bullying or racism. And in this way, home education is not always a lifestyle choice. But even when it is, this decision should still be respected, because as our research shows, choosing home education is a difficult and challenging decision – but one that is often made with the best interests of the children in mind.

Fuente:https://theconversation.com/record-numbers-of-children-are-now-homeschooled-but-whos-keeping-an-eye-on-the-parents-88449

Fuente Imagen:https://lh3.googleusercontent.com/QtvQ7TFNeV_LIfWQNduiYkb6MZrplYp278NwrMvlehtmczTejrCtA2K8SANYJnhJ5Rfp=s85

 

 

Comparte este contenido:

Francia: Pour l’école et les résultats scolaires, les neurosciences feront-elles le printemps ?

Europa/Francia/Diciembre del 2017/https://theconversation.com/

L’automne n’est décidément pas une bonne saison pour l’École française. Les enquêtes PISA apportent régulièrement leur lot de nouvelles préoccupantes sur les performances en mathématiques des élèves de 15 ans. Pour ce qui concerne la lecture, les résultats de l’enquête Pirls (Programme international de recherche en lecture scolaire, touchant les écoliers de CM1) n’étaient pas très bons en 2012 (cf. Le Monde du 13/12/2012). Ceux de 2017 sont encore plus mauvais, au point de déclencher une prise de parole quasi immédiate du ministre de l’Éducation nationale.

La prise en compte des données apportées par ces enquêtes, dont le caractère préoccupant est indéniable, impulse logiquement une double recherche : des responsables ; et des solutions. On peut admettre qu’une partie de la responsabilité (au moins) appartient à la pédagogie, et qu’en conséquence une partie de la solution est d’améliorer celle-ci. Mais alors, comment ? Les pistes proposées par le ministre, avec en particulier la création d’un Conseil scientifique de l’éducation nationale (CSEN), sont-elles les bonnes ?

De la nécessité d’une « pédagogie vraiment éclairée »

Commentant déjà des résultats produits par des enquêtes PISA et Pirls, [Antoine Prost (Le Monde du 21 fevier 2013) « sonnait le tocsin », en reconnaissant que le niveau scolaire baissait vraiment. Mais il avertissait que le « vrai problème de pédagogie » que nous avons « ne se résoudra pas en un jour ». Et ajoutait que la seule façon d’« enrayer cette régression » est de « faire travailler plus efficacement les élèves ». Ce qui nous semble incontestable.

Pour rendre l’école plus efficace, il apparaît donc à la fois nécessaire, et urgent, de travailler à l’émergence de ce que Marcel Gauchet a désigné (Le Monde du 22 mars 2013) comme « une pédagogie véritablement éclairée », laquelle, pour lui, restait à inventer. Or, si nous ne savons toujours pas comment enseigner de façon vraiment efficace, c’est essentiellement, avertissait Gauchet, parce que nous ne savons pas encore ce que veut dire apprendre.

La recherche d’une plus grande efficacité exige ainsi un déplacement de curseur, d’une focalisation sur l’acte de « transmission » du professeur, à une focalisation sur l’acte d’appropriation qu’opère l’élève qui apprend, dans l’espoir de donner un fondement solide à cet acte. C’est pour atteindre cet objectif que Monsieur Blanquer mise sur « la lumière des sciences ».

Enseigner à la lumière des sciences ?

La tâche prioritaire de la pédagogie est bien alors aujourd’hui de se centrer sur l’acte d’apprendre, en étant éclairée par toutes les disciplines pouvant légitimement apporter un savoir utile, qui soit susceptible de donner consistance à l’activité d’enseignement, laquelle a pour fin principale de faciliter le déploiement de cet acte d’apprendre. Avec l’espoir de sortir du débat d’opinion, en s’appuyant ainsi « sur ce qui est prouvé et ce qui marche à la lumière des sciences » (J.-M. Blanquer le 24 novembre 2017).

Mais, alors, il y a lieu de s’interroger sur le sens, et la portée, de l’expression « lumière des sciences ». Car il ne faudrait pas perdre de vue deux considérations qui nous paraissent essentielles, et de nature à prévenir des empressements excessifs, ou des choix contestables. La première est que toutes les contributions seront les bienvenues, et qu’aucune approche n’a le monopole de la connaissance de l’« apprendre ». La seconde est que, bien qu’il soit indispensable, un éclairage par les sciences n’a aucun pouvoir automatique de transformation des pratiques pédagogiques : la pédagogie sera toujours à inventer.

Les neurosciences n’ont pas le monopole de l’« éclairage »

Pour progresser vers une « pédagogie vraiment éclairée », trois apports (et non un seul) nous semblent aujourd’hui précieux.

Le premier est, en effet, celui des connaissances produites par la neurobiologie. Si les tenants d’une neuro-éducation, d’une part vont souvent un peu vite en besogne, et d’autre part se laissent trop facilement prendre au mythe d’une possible éducation scientifique, il n’en reste pas moins vrai que l’acte d’apprendre a une dimension neuronale incontestable, que le cerveau y joue un rôle essentiel, et que tout ce qui nous aide à comprendre les mécanismes cérébraux est utile à la progression dans la connaissance des conditions de construction des savoirs comme outils ou objets mentaux.

Ayant moi-même souligné, dès 1984, l’apport décisif des travaux de Jean‑Pierre Changeux pour la connaissance des processus d’apprentissage (« Neurobiologie et pédagogie : « L’homme neuronal » en situation d’apprentissage »Revue Française de Pédagogie, N° 67, 1984), je ne peux qu’approuver Stanislas Dehaene (devenu depuis Président du nouveau CSEN) lorsqu’il insiste (Le Monde du 5/11/2011) sur la nécessité de « prendre en compte les avancées de la recherche » en ce domaine. Mais à la condition expresse de ne pas croire que ces avancées feront de l’activité d’enseignement une science.

Un deuxième éclairage est apporté par les travaux portant sur l’apprentissage autorégulé (self-regulated learning ou SRL), qui ont permis de comprendre en quel sens l’autorégulation pouvait être vue à la fois comme un fait fonctionnel fondamental, et comme un idéal pour l’action éducative. Horizon d’une activité d’enseignement se voulant efficace, la maîtrise par le sujet qui apprend de ses propres processus d’apprentissage est aussi le moyen de tendre vers cet horizon (Hadji, 2012).

Enfin, la révolution numérique apporte un troisième éclairage. Si les outils et possibilités nouvelles qu’elle offre ne sont pas automatiquement synonymes de révolution pédagogique, et s’il ne faut pas croire que les nouvelles technologies pourront tout résoudre, la mise en œuvre des possibilités offertes par ces technologies nous permet de redécouvrir les trois grandes caractéristiques d’un apprentissage efficace : un apprentissage actif, contrôlé par le sujet lui-même, et à forte dimension collaborative.

Enseigner n’est pas une science

Mais, s’il existe, selon les termes de Stanislas Dehaene (Le Monde des 22 et 23 décembre 2013), « une approche scientifique de l’apprentissage », cela ne permet nullement de conclure avec lui qu’« enseigner est une science » ! L’efficacité éducative ne peut pas être prouvée a priori. L’utilité des pistes proposées par la neurobiologie, l’apprentissage autorégulé, et la révolution numérique, demandera à être éprouvée dans une mise en œuvre « expérimentale ». Il faut essayer, pour voir si vraiment « ça marche ». L’évaluation, nécessaire, ne peut venir qu’a posteriori, et n’apportera, compte tenu de la multiplicité des facteurs en cause, et de la difficulté, pour ne pas dire de l’impossibilité, d’établir des « groupes contrôle » (« Les dossiers de la DEPP », 207), qu’une « preuve » toujours relative et limitée de l’efficacité d’une stratégie éducative.

Les situations d’apprentissage sont toujours à inventer. Mais telle est justement la vocation de la pédagogie, comme « invention minutieuse et obstinée de dispositifs utilisables ici et maintenant », selon la belle formule de Philippe Meirieu (Meirieu/Cédelle, 2012, p. 183). Même si l’on se fondait sur une parfaite connaissance de l’acte d’apprendre, l’élaboration, et la mise en œuvre, de situations susceptibles d’optimiser cet acte, relèveraient encore et toujours d’un certain bricolage.

Ainsi, bien que la pédagogie, comme pratique, puisse trouver un fondement solide dans les apports des sciences éclairant les différentes dimensions de l’acte d’apprendre, l’approche scientifique de l’apprentissage n’a pas le pouvoir de faire de l’enseignement une science. Le légitime désir de dépasser le débat d’opinion ne doit pas nous jeter dans les bras d’un scientisme illusoire.

Fuente:

https://theconversation.com/pour-lecole-et-les-resultats-scolaires-les-neurosciences-feront-elles-le-printemps-88934

Fuente Imagen:

https://lh3.googleusercontent.com/WfisCiGAFTbrOpN-sh-FERTIIL9WtGnrv39cJfqFErscaBJGjUTlaCmNVMfPRNV0elLxdw=s114

 

Comparte este contenido:
Page 2959 of 6193
1 2.957 2.958 2.959 2.960 2.961 6.193